Make your own free website on Tripod.com

PERJUANGAN SAMPAI TITIK DARAH TERAKHIR

 

 

 

I. ASAS DAN ASAS PERJUANGAN GMNI

 

I.a Asas GmnI

            Asas adalah dasar atau pegangan kita, yang, “walau sampai lebur kiamat”, terus menentukan “sikap” kita, terus menentukan “duduknya nyawa kita”. Asas tidak boleh kita lepaskan, tidak boleh kita buang, walaupun kita sudah mencapai Indonesia merdeka itu harus menjadi dasar caranya kita menyusun kita punya masyarakat[1].

            Asas GmnI adalah Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Inilah inti sarinya: Sosio-Nasionalisme adalah “nasionalisme kemasyarakatan”, nasionalisme yang mencari selamatnya seluruh masyarakat dan bertindak menurut wet-wetnya masyarakat itu”[2].  . “Sosio-Nasionalisme adalah nasionalisme politik DAN nasionalisme ekonomi, --suatu nasionalisme yang mencari keberesan politik Dan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki[3].

            Sosio Demokrasi adalah demokrasi sejati yang mencari keberesan politik DAN ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki. Sosio-Demokrasi adalah demokrasi politik DAN demokrasi ekonomi[4].

           

            Dalam Amanat Pada Konfrensi Besar GMNI pada tahun 1959 di Kaliurang, Bung Karno menegaskam tentang Marhaenisme Sebagai berikut:

1. Marhaenisme adalah asas yang menghendaki susunan masyarakat yang dalam segala

halnya menyelamatkan kaum Marhaen

2. Marhaenisme adalah cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum

Marhaen pada umumnya

3. Marhaenisme adalah dus asas dan cara perjuangan “tegelijk” menuju hilangnya

kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme”

 

I.b Asas Perjuangan

            Asas perjuangan menurut Bung Karno,” hanyalah perlu selama kita berjuang, selama perjuangan berjalan, kalau perjuangan sudah berhasil, kalau Indonesia merdeka sudah tercapai, kalau republik politik sosial sudah berdiri, maka asas perjuangan itu lantas tiada guna lagi adanya”. Asas perjuangan yang digunakan Bung Karno pada masa kolonialisme Belanda di Indonesia misalnya, Non Kooperasi, Self Help, Radikalisme, Machtsvorming, Massa Aksi.

            Asas Perjuangan terikat oleh ruang dan waktu. Sehingga dalam konteks yang berbeda, maka dapat berbeda pulalah asas perjuangan. Seperti yang dikatakan Bung Karno sendiri, kalau Indonesia sudah merdeka, maka asas perjuangan boleh jadi tidak berguna lagi (tidak efektif).  Oleh sebab itu, maka harus diformulasikan suatu asas perjuangan yang baru yang efektif dalam kondisi dan situasi masa kini. Inilah tugas GmnI ditengah-tengah pergolakan politik, ekonomi dan sosial yang begitu dinamisnya sehingga formulasi asas perjuangan yang relevan harus segera dicari. Apakah GmnI akan tetap menggunakan seluruh asas perjuangan yang digunakan oleh Bung Karno tersebut, ataukah meramunya dengan yang baru.

 

Radikalisme, Machtsvorming, dan Massa Aksi masih Relevan[5]

Ketiga asas perjuangan tersebut masih relevan sebagai teori dan metode perjuangan GmnI ke depan.

  1. Radikalisme menghendaki agar GmnI berjuang membongkar permasalahan sampai ke akar-akarnya. Hal ini diperkuat oleh argumentasi bahwa Marhaenisme menghendaki lenyapnya kapitalisme dan imperialisme di muka bumi. Oleh sebab itulah kemudian radikalisme tetap relevan dengan situasi masa kini dimana kapitalisme belum tumbang malah semakin merajarela. GmnI pun kemudian harus menentang dan merubuhkan sistem dari pada kapitalisme tersebut.

  2. Machtsvorming mengharuskan GmnI untuk membangun kekuatan berdasarkan prinsip self help. Sebab kaum kapitalis tak sudi memberikan kekuasaanya secara cuma-cuma kepada GmnI. Maka, GmnI harus membangun kekuatannya sendiri.

  3. Massa Aksi dibutuhkan oleh GmnI untuk membangkitkan semangat, kesadaran, dan kekuatan rakyat Indonesia[6]

 

II. Kondisi Subjektif GmnI: Dewan Pimpinan Cabang D.I. Yogyakarta

            Unsur-unsur vital yang perlu diperhatikan adalah kuantitas dan kualitas (tipologi) kader, rekrutmen dan silabus kaderisasi, metode dan stratak gerakan.

III.a. Jumlah dan kualitas (tipologi) Kader

1. Inventarisasi dan estimasi jumlah kader

2. Jumlah kader masih-masih komisariat

3. Tipologi kader:

            a. Simpatisan dan partisipan

            b. Intensitas

            c. Responsibilitas (tanggung jawab)

4. Jumlah Komisariat: letak/lokasi

 

III.b. Rekrutmen dan Silabus Kaderisasi[7]

1. Metode rekrutmen: Basis lokasi, Universitas/Fakultas, Jurusan

2. Silabus Kaderisasi: relevansi dan kontekstualisasi

3. Mekanisme Kaderisasi: Konvensional atau ada cara dan parameter lain?

 

III.c. Metode dan Strategi Gerakan

1. Massa Aksi

2. Strategi back to campus dan masifikasi kader

3. Advokasi dan Pemberdayaan kelompok-kelompok tani, buruh, pedagang, kaum

miskin, pengamen, dan kelompok-kelompok masyarakat marginal lainnya.

4. Aliansi Strategis dengan elemen-elemen gerakan lainnya: Komite bersama

5. Inisiasi Pembentukan Front Nasional

 

AGENDA PERJUANGAN PERMANEN GmnI

1. Menggorganisir buruh, tani, kaum miskin kota, nelayan, dan masyarakat tertindas lainnya.

2. Membangun kerja sama dengan elemen-elemen rakyat; serikat buruh, serikat tani, kelompok nelayan, organisasi masyarakat sipil, Lembaga Masyarakat sipil (LSM) yang kontra kapitalisme/neoliberalisme, asosiasi-asiosiasi kebudayaan rakyat, sanggar kesenian, forum pedagang kecil, asosiasi usaha kecil dan menengah rakyat, organisasi rakyat, kelompok-kelompok intelektual pro-rakyat, bahkan partai-partai politik yang berdasarkan platform kerakyatan.

3. Inisiator pembentukan front elemen-elemen rakyat, baik itu berbentuk organisasi rakyat, organisasi masyarakat sipil, lembaga swadaya masyarakat, assosiasi usaha rakyat, partai-partai politik. Pembentukan front ini harus berdasarkan landasan pandangan Nasionalis-Marhaenis.

4. Membangkitkan perlawanan dan perjuangan massa rakyat secara terus-menerus berdasarkan tahapan dialetika gerakan dan pandangan Marhaenisme untuk menggempur stelsel Kapitalisme Neoliberalisme dalam segala bentuk dan manifestasinya.

5. Mengalang elemen-elemen kekuatan progresif yang kontra Kapitalisme dalam kancah internasional dengan dilandasi politik bebas aktif GmnI. Bebas dalam menentukan keberpihakannya sesuai Marhaenisme tanpa intervensi pihak luar, dan selalu aktif dan permanen berjuang.  “We are not siiting on the fence”. Coordinated accumulated force, atau samenbundeling, untuk menjebol stelsel Kapitalisme internasional.

 


 


[1] Ibid. DBR., Hal 249

[2] Ibid. DBR., Hal 187           

[3] Ibid. DBR., Hal 175

[4] Ibid. DBR., Hal 175

[5] Asas-asas Perjuangan yang masih relevan lainnya, lihat Radikalisme Gerakan: peregulatan Menuju Sosialisme Indonesia. Sekretariat Jenderal Presidium GmnI.2003. 68 – 69.

[6] James Petras dan Henry Veltmeyer, Di Ambang Revolusi, C-BOOKS, Jakarta, 2003. Banyak berbicara tentang perlawanan rakyat Argentina terhadap Neoliberalisme. Aksi-aksi pemogokan, pemboikotan, demostrasi massa, dsb, dilakukan sebagai bentuk perlawanan. Massa Aksi terorganisir masih relevan sebagai metode perlawanan terhadap kapitalisme neoliberalisme.

[7] lihat Radikalisme Gerakan: peregulatan Menuju Sosialisme Indonesia. Sekretariat Jenderal Presidium GmnI.2003. Hal 103-143. Masih diperlukan diskusi, kritik oto kritik, dalam memformulasikan metode dan materi kaderisasi GmnI.

 

[HOME]