Make your own free website on Tripod.com

 

[PIDATO KETUA DPC]    [SOSIALISME INDONESIA: SUATU PERJUANGAN PERMANEN]    [TIPOLOGI GERAKAN MAHASISWA]

 

NL

Watch out Global Capitalism!!!

 

 

Dokumentasi

 

PIDATO SAMBUTAN KETUA CABANG

GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA

DAERAH ISTIMEWAH YOGYAKARTA 

“THE TURNING POINT”

Di seberang jembatan emas (pembentukan DPC) kita membangun

 GmnI D.I. Yogyakarta dan Indonesia”

Merdeka !

GmnI Jaya !

Marhaen Menang!

 

Pendahuluan

            Pergulatan internal GmnI seolah-olah mengkerangkeng kader-kader Banteng dalam pusaran arus yang berujung pangkal. Akibatnya; pertama, terjadi pembusukan organisasi dan fungsi kerjanya. Kedua, pembusukan watak dan pemandulan kemampuan kader secara berlarut-larut, dam ketiga, matinya gerakan GmnI itu sendiri. Penyebab konflik internal itu banyak sekali. Tapi yang paling utama adalah; pertama, pembagian kursi yang tidak merata. Kedua, pembagian rezeki yang tidak adil dan transparan. Dan ketiga, intervensi dan dominasi beberapa alumni yang tidak resposible dan penuh dengan vested interest, serta campur tangan “sok senior”. Faktor-faktor utama tersebut menyebabkan efek-efek lanjutan terutama ke arah konflik personal-emosional yang kemudian berimbas pula pada sikap dan tindakan organisasi (politik). Inilah lingkaran setan yang dialami GmnI selama bertahun-tahun.

 

After 50th years: The turning point

            Setelah menapaki perjalanan lika-liku kehidupan selama lebih dari 50 tahun, sudah saatnyalah GmnI harus mencoba tuk bengkit kembali. Segala jalan memang harus ditempuh, kalau tidak maka sejarahlah yang akan menelan GmnI. Faktor-faktor internal pembusukan GmnI harus dibersihkan sampai ke akar-akarnya. GmnI membutuhkan kepemimpinan yang tegas, kuat, dan berani (tersenyum walaupun dihadapan moncong senjata).

            Lenin pernah bersabda,”lebih baik ¾ penduduk bumi ini lenyap, asal ¼ nyalah ialah kaum komunis”. Sekilas sabda Lenin tersebut sangat kejam dan tidak manusiawi. Namun tetap ada maksud dan faedahnya. Analoginya adalah, lebih baik kehilangan 100 orang sontoloyo, asal masih tersisa 10 kader GmnI yang progresif. Jadi, bukan faktor kuantitas an sich sebagai tolak ukurnya, tapi juga kualitas kader. Inilah hukum dialektika! Mentalitas yang hanya mengejar kursi (posisi), rezeki dan vested interest pribadi harus diganyang habis-habisan! Apalagi campur tangan “orang2” yang bukan anggota GmnI. Prinsip GmnI haruslah sesuai dengan prinsip organisasi modern,”the right man on the right place, on the right job”.

            Sudah saatnyalah GmnI bangkit kembali dari keterpurukannya. Mentalias lama harus dibuang jauh-jauh dan digembleng sesuai dengan tuntutan zaman (progresif). Sebagai agent of change, si agen sendiri harus merubah wataknya sebelum merubah lingkungannya. Bagaimana mungkin sesuatu yang kurang baik dapat memperbaiki keadaan yang tidak baik juga? Inilah dialektika antara kondisi subjektif  (agen) dengan kondisi objektif (lingkungan, sistem, budaya). Klo bukan kita lantas siapa lagi?!

 

GmnI organ Mahasiswa: Strategi from campus to campus

            Degradasi kualitas dan kuantitas anggota-anggota GmnI menjadi persoalan yang harus segera ditemukan formula solusinya. Secara kuantitas misalnya, jumlah anggota dan komisariat-komisariat cukup kecil dibandingkan dengan potensi human resources yang seharusnya bisa dibangun oleh GmnI. Di DIY sendiri misalnya, ada 90-an universitas, institute dan perguruan tinggi sejenisnya dengan ratusan ribu jumlah mahasiswanya. Klo dibandingkan dengan kondisi tersebut, bukankah keberadaan GmnI sangat kecil lingkupnya? Maka dari pada itulah masifikasi kader harus segera dilaksanakan dengan melakukan pemetaan kampus-kampus yang akan diorganisir oleh GmnI. Dengan analisa secara empiris dan cermat, besar harapan GmnI akan membasis di kampus-kampus di DIY. Bendera GmnI akan memenuhi kampus-kampus di DIY (Secret paper: Map of the road to expansion).

 

GmnI Organ Massa: From Campus to Mass of The People

            GmnI juga tidak boleh menjadi menara gading yang teralienasi dari masyarakatnya sendiri. Pada waktu yang tepat GmnI harus turun ke tengah2 masyarakat. Kader2 GmnI harus melakukan machtvorming bersama dengan rakyat. “Belajar bersama Rakyat, dan Bergerak bersama Rakyat”. Jadi, kader2 GmnI jangan memposisikan Rakyat sebagai Objek, tapi harus menjadikannya Subejk.

            Ideologi Marhaenisme harus didialektikakan dengan realitas kekinian. Bukankah denk method materialisme historis yang digunakan oleh BK adalah sebuah pisau analisa untuk memahami sejarah yang terus bergerak! Maka, GmnI pun tak boleh dogmatis, sempit dan dangkal dalam menggunakan Marhaenisme. Visi baru gerakan Marhaenisme harus direkonstruksi ulang. Namun, prinsip dasar (ontologi; weltanschuung), tata nilai (aksiologi) Marhaenisme masih sangat relevan sampai sekarang. Bahkan Marhaenisme adalah ideologi yang universal dan penuh cinta kasih akan kemanusiaan. Hanya saja boleh jadi epistemologi, metode berpikir, strategi dan taktik gerakan dalam Marhaenisme perlu senantiasa diperbaharui melalui dialektika (kritik oto kritik) dan dipraksiskan sebagai bentuk perjuangan.

 

Organisasi dan Propaganda

            Fungsi propaganda adalah mencari pengikut, namun organisasi adalah membentuk watak dan kemampuan anggota2 nya[1]. Untuk itulah GmnI harus memiliki media dan instrumen2 propaganda untuk memperluas pengaruhnya ditengah2 masyarakat mahasiswa dan khalayak umum. Biro propaganda harus diperlengapi dengan trainning khusus dan sarana yang memadai. Namun yang paling penting adalah mental militan agen-agen propagandis tersebut. Sedangkan pada lingkup organisasi, GmnI harus membangun organisasi yang solid, disipilin, dinamis dan progresif. Dengan begitu, maka banyaklah massa/pengikut/simpatisan yang kemudian tertarik dan bergabung menjadi anggota GmnI.

 

LITBANG dan Think Tank

            Suatu organisasi wajib hukumnya memiliki unsur konseptor yang ulung, cerdas dan tajam dalam berpikir. GmnI pun harus mempersiapkan organisasinya dalam membentuk lembaga think tank khusus yang akan menggodjlok ideologi, wacana2 dan situasi mutakhir yang berkembang. Sehingga ketika dalam menghadapi suatu problema, GmnI dapat menganalisa persoalan tersebut secara tepat dengan solusi yang tepat pula.

 

DPC GmnI DIY: New Emerging Forces

            “We are not sitting on the fence”. GmnI pun tidak mau hanya menjadi penonton di tengah gelombang besar perubahan zaman. GmnI harus mengambil peran sebagai “avant garde” dan “agent of Change” di tengah situasi besar itu. Yang paling penting adalah bagaimana GmnI mempengaruhi perubahan itu ke arah cita-cita hati nurani rakyat (Social conscienness of man).

            “Coordinated accumulated power”. GmnI harus segera melakukan machtvorming dan sammenbundelling kekuatan2 progresif, baik di wilayah mahasiswa maupun masyarakat. Tugas dan tantangan besar ini memanglah sudah menjadi tanggung jawab langsung DPC DIY. Maka, tidak ada kata akhir bagi perjuangan. Galang kekuatanmu, ganyang musuh2 mu. Dan jangan pernah kompromi dengan kaum avonturis.

 

Penutup

            Demikianlah semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu meridhoi perjuangan GmnI. Dan semoga juga rakyat selalu bersama kita.

 

Salam Perjuangan

Bantera

D.I. Yogyakarta, 1 Mei 2004

[HOME]