Make your own free website on Tripod.com

 

 

 

 

 

DASAR-DASAR TEORI EKONOMI-POLITIK

 

Produksi Materi (Barang-Barang) Kebutuhan

Merupakan Basis dari Kehidupan Sosial

 

Banyak pendapat  mengenai siapa dan apa yang menyebabkan adanya perkembangan masyarakat. Seorang agamawan misalnya, mengatakan perkembangan masyarakat  itu adalah takdir Tuhan. Namun, Ilmu Pengetahuan dan praktek membuktikan bahwa tidak ada kekuatan supranatural yang mendorong perkembangan masyarakat. Sementara para ilmuwan borjuis berpendapat bahwa perkembangan sosial tergantung pada lingkungan alam, yakni  kondisi alam semisal iklim, tanah, mineral, dan lain-lain. Memang benar bahwa kondisi alam memang salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan masyarakat, tapi itu tidak menentukan. Sebagai bukti, selama 300 tahun telah terjadi suksesi (pergantian) sistem sosial di Eropa Barat dan bahkan terjadi empat kali di Eropa Tengah dan Timur; namun selama periode tersebut  kondisi alam di Eropa belum pernah mengalami perubahan sama sekali.  Beberapa orang  berpendapat bahwa arah perkembangan sejarah hanya tergantung pada kehendak para tokoh negarawan yang ada, para jenderal dan sebagainya. Kenyataannya, sebaliknya, para tokoh-tokoh  bisa  mendukung ataupun menghambat suatu perubahan, namun mereka tak mampu menentukan arah sejarah.

Lalu apa yang menentukan perkembangan masyarakat?  Jawabnya : “Dalam rangka mempertahankan hidup, orang harus makan dan berpakaian, memiliki rumah dan barang-barang lain sebagai sarana hidup. Untuk memilikinya, orang harus berproduksi, artinya harus bekerja. Masyarakat  manapun akan punah   jika  tidak  mau memproduksi barang kebutuhan. Oleh karenanya, produksi barang kebutuhan adalah basis  kehidupan dan perkembangan masyarakat.

Yang dimaksud dengan produksi barang kebutuhan adalah : proses menghasilkan barang-barang kebutuhan yang memasukkan (=menggunakan, menggabungkan) tenaga kerja (labour), faktor-faktor kerja (means of labour), dan obyek kerja (object of labour) .

Tenaga  kerja (labour) = tindakan yang mempunyai tujuan yang dilakukan oleh manusia yang diarahkan  untuk menghasilkan barang kebutuhan. Proses produksi tidak cukup jika tanpa alat-alat  kerja.

Faktor kerja (means of labour) = semua barang yang dengan bantuan tindakan manusia terhadap suatu benda/obyek kerja dan merubahnya. Faktor-faktor kerja meliputi  : mesin dan perlengkapan,  peralatan, bangunan, fasilitas transportasi, saluran air, jaringan listrik, dll. Tanah adalah merupakan alat produksi yang universal. Instrumen produksi  memainkan peran yang paling menentukan dibandingkan dengan diantara faktor-faktor produksi yang lain. Kemampuan manusia mempengaruhi  alam tergantung pada instrumen (peralatan) yang ia gunakan. Manusia primitif menggunakan batu dan tongkat sebagai instrumen produksinya, oleh karenanya  mereka  sangat tidak berdaya dihadapan alam. Manusia modern bekerja dengan bantuan mesin, dan kekuasaannya terhadap alam  meningkat  terus. Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa : epos ekonomi dibeda-bedakan tidak dari apa yang diproduksi tetapi dari instrumen apa yang digunakan untuk berproduksi.

Dengan instrumen produksi mereka, orang berbuat terhadap obyek kerja (objects of labour). Obyek kerja = segala sesuatu yang menggunakan tenaga kerja  manusia.Dan karena tenaga kerja digunakan  terhadap  alam yang mengelilingi kita, alam itu sendiri (tanah dan segala hal di atas bumi ini) adalah merupakan obyek kerja yang universal. Semua obyek kerja primer  disediakan oleh alam. Manusia harus menyesuaikan diri terhadap obyek kerja yang disediakan alam tersebut.

 

Tenaga Produksi dan Hubungan Produksi

Faktor kerja (means of labour) dan obyek kerja (objects of labour) secara bersama-sama membentuk  faktor produksi (means of production). Tetapi, faktor-faktor produksi itu sendiri tidak tak mampu menghasilkan barang-barang kebutuhan. Peralatan mesin yang paling canggih sekalipun tak bisa jalan tanpa ada orang-orang yang mengoperasikannya. “Tanpa buruh, pabrik hanyalah rumah-rumah hantu,  mesin hanyalah rongsokan tak berguna dan uang hanyalah sekumpulan angka”, begitu kata seniman Widji Thukul. Karena itu, faktor yang paling menentukan dalam semua aktivitas produksi  adalah manusia itu sendiri, tenaga kerjanya.

Produksi selalu mempunya dua aspek : kekuatan produktif (productive forces) dan hubungan produksi (relation of production). Kekuatan produktif meliputi faktor-faktor produksi  yang dibuat oleh masyarakat dan peralatan-peralatan kerja, dan juga orang-orang yang memproduksi barang kebutuhan tersebut. Mengapa orang-orang masuk di sini karena pengetahuan mereka, pengalaman dan keahlian mereka, yang mengembangkan alat-alat produksi,  yang meningkatkan alat-alat tersebut, mengembangkan mesin-mesin.

Tetapi orang memproduksi barang-barang kebutuhan tidak dengan bekerja sendiri-sendiri, tetapi bekerja bersama-sama dalam kelompok,  secara sosial, atau secara kolektif. Sebagai contoh adalah pabrik sepatu. Berapa banyak orang yang bekerja di sana, hanya untuk membuat satu macam komoditas  alas kaki ?  Akibatnya, proses memproduksi barang-barang kebutuhan  menghubungkan orang-orang  menjadi bersama-sama, membuat tergantung satu sama lainnya, dan mengharuskan ada hubungan satu-sama lainnya.

Hubungan antara  orang-orang dalam proses produksi, distribusi dan pertukaran barang kebutuhan disebut hubungan produksi atau hubungan ekonomi. Hubungan produksi bisa berbentuk  co-operasi dan saling membantu diantara orang-orang yang bebas dari penghisapan, atau bisa merupakan suatu bentuk penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya. Ini tergantung siapa  yang memiliki faktor-faktor produksi (tanah dan mineral, hutan, pabrik-pabrik dan workshop, alat-alat kerja, dan sebagainya).  Jika faktor-faktor produksi dimiliki oleh swasta/pribadi, tidak dimiliki oleh seluruh masyarakat  tetapi oleh individu secara sendiri-sendiri,  kelompok sosial tertentu atau kelas sosial tertentu, hubungan produksi tersebut akan melahirkan  penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya, menghasilkan dominasi dan sub-ordinasi. Ini karena, para buruh dibawah sistem kapitalisme telah dirampas  kepemilikannya atas  faktor-faktor produksi sehingga  mereka harus bekerja untuk kapitalis. Dalam sistem ekonomi sosialisme, faktor-faktor produksi  menjadi milik sosial (milik masyarakat), maka, tidak ada penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya, dan hubungan  antara orang-orang menjadi hubungan perkawanan yang saling kerja sama dan saling membantu.

Hubungan manusia terhadap faktor-faktor produksi  menentukan tempat dimana orang menguasai produksi, menentukan cara/metode bagaimana produk didistribusikan. Sebagai contoh, dalam sistem kapitalisme kaum borjuasi (yang memiliki faktor-faktor produksi) memiliki seluruh hasil yang dikerjakan oleh para buruh, sementara itu kebanyakan orang  hidup dalam  jurang  kemiskinan. Dalam sosialisme, dimana  faktor-faktor produksi menjadi milik rakyat  (milik masyarakat), barang-barang konsumen didistribusikan berdasarkan kerja yang telah disumbangkan oleh orang tersebut, dan terus-menerus menghasilkan barang-barang dan  standar hidup yang berbudaya  yang pasti bagi semua orang-orang yang bekerja (pekerja). Ini yang dimaksud dengan hubungan produksi atau hubungan ekonomi diantara rakyat.

Ada 5 hubungan produksi yang mendasar yang kita ketahui :

1. Masyarakat Primitif ---> faktor pribadi menjadi milik masyarakat.

2. Perbudakan ---> faktor produksi menjadi milik pribadi (pemilik budak).

3. Feodalisme ---> faktor produksi menjadi milik pribadi (tuan tanah).

4. Kapitalisme ---> faktor produksi menjadi milik pribadi (borjuasi/kapitalis).

5. Sosialisme ---> faktor produksi  menjadi milik masyarakat.

 Kepemilikan pribadi atas faktor-faktor produksi tersebut  mengakibatkan masyarakat terbagi kedalam dua kelas yang bertentangan  --mengakibatkan pertentangan  kelas, pertentangan yang tak terdamaikan--  yaitu : pertentangan antara si penindas dan si tertindas. Oleh karenanya, perjuangan kelas dengan kekerasan adalah  gambaran yang mendasar dari sebuah masyarakat Perbudakan, Feodalisme dan Kapitalisme. Hanya dalam masyarakat Sosialis lah  dimana terdapat kepemilikan bersama secara sosial terhadap faktor-faktor produksi.

 

Bentuk-2 Distribusi barang-2 kebutuhan

Walaupun  Corak Produksi  memang menggambarkan  gabungan  antara Kekuatan-2 Produktif dam Hubungan-2 Produksi, kekuatan-2 Produktif dan Hubungan-2 Produksi adalah merupakan dua aspek yang terpisah. Dua hal ini berhubungan dan saling mempengaruhi. Keduanya   berkembang dalam proses peningkatan produksi.

Kekuatan-2 Produktif  merupakan elemen yang paling mobil dalam Corak Produksi; mereka terus-menerus berubah, sebab manusia terus-menerus meningkatkan alat-alat  kerja dan mengumpulkan pengalaman-2  dalam berproduksi. Sementara itu, Hubungan-2 Produksi berkembang berdasarkan  tingkat perkembangan  Kekuatan-2 Produktif .

Jika Hubungan-2 Produksi mengikuti tingkat Perkembangan Kekuatan-2 Produktif,  maka ia berkembang terus  tanpa henti. Negara-2 Sosialis memberikan contoh mengenai ini, disana produksi berkembang sangat cepat, tanpa ada krisis dan pengangguran, karena ia berbasis pada kepemilikan sosial atas faktor-2 Produksi.

Jika Hubungan-2 Produksi tidak mengikuti tingkat perkembangan Kekuatan-2 Produktif,  maka ia akan menghancurkan produksi. Contohnya adalah di negara-negara kapitalis, produksi berkembang lebih lambat, dan jika terjadi krisis ekonomi maka akan mendorongnya mundur  menjadi terbelakang, dimana jutaan orang di-PHK dan  melahirkan ledakan pengangguran. Ini terjadi karen adanya kepemilikan pribadi atas faktor-2 produksi  dan si kapitalis menghindari adanya perkembangan  Kekuatan-2 Produktif  lebih maju lagi.

Hubungan-2 Produksi dihasilkan oleh karakter Kekuatan-2  Produktifnya. Hukum ini yang memberikan basis bagi adanya Revolusi Sosial. Di saat Hubungan-2 Produksi tertinggal di belakang perkembangan Kekuatan-2 Produktif, menjadi kadaluwarsa dan menghambat  perkembangannya, maka ia tak terhindarkan akan diganti  dengan yang baru. Dalam masyarakat yang terbagi  kedalam kelas-kelas yang bermusuhan maka Hubungan Produksi yang lama akan diganti dengan Hubungan-2 Produksi yang baru melalui Revolusi Sosial.

Hanya dalam Masyarakat  Sosialis, dimana tidak ada pertentangan Kelas,  dimana Hubungan-2 Produksi berkembang tidak melalui Revolusi Sosial, tetapi melalui rencana yang disesuaikan dengan perkembangan-2  Kekuatan-2 Produktif.

Corak Produksi harus dibedakan dengan  Basis Sosial. Basis Sosial merupakan total keseluruhan dari Hubungan-2 Produksi dalam masyarakat tertentu, yang mana hubungannya tergantung pada  level Kekuatan-2 Produktifnya.  Basis Sosial terdiri dari  antagonistik dan non-antagonistik.

Basis tersebut menimbulkan adanya superstruktur dan menentukan perkembangannya. Superstruktur  tersebut antara lain : pandangan-pandangan masyarakat dan lembaga-lembaga  politik, filsafat, peradilan, seni, agama/kepercayaan, dll. Dalam sebuah kelas sosial superstruktur tersebut kehilangan watak kelasnya. Dalam menyeragamkannya dengan ide-ide kelas penguasa membuat lembaga-lembaga untuk mempertahankan kepentingannya.

Baik basis maupun superstruktur hanya ada pada periode waktu tertentu. Jika basisnya berubah, maka superstruktur juga berubah. Hilangnya basis feodalisme dan digantikannya dengan kapitalisme, membawa superstruktur feodalisme digantikan oleh superstruktur kapitalisme.Walaupun superstruktur secara keseluruhan tergantung pada basis, beberapa elemen dari superstruktur baru bisa lahir dalam masyarakat lama. Misalnya, dalam masyarakat  kapitalis telah muncul idiologi proletariat.

Corak Produksi bersama-sama dengan Superstruktur membentuk formasi sosial-ekonomi. 5 Formasi Sosial-ekonomi  yang ada yang kita ketahui dalam sejarah :

1. Kommunal-Primitif.

2. Perbudakan.

3. Feodalisme.

4. Kapitalisme.

5. Sosialisme.

Tiap-tiap Formasi Sosial-ekonomi mempunyai  ekonomi, pandangan-pandangan, ide-ide, dan lembaga-lembaga yang berbeda-beda. Perkembangan Formasi Sosial-ekonomi ini meningkat  dari yang paling rendah  (terbelakang)  ke yang paling tinggi (maju). Lahir, berkembang dan hancurnya Formasi Sosial-ekonomi merupakan subyek dari Hukum Perkembangan Sosial.

 

Hukum Ekonomi atas Perkembangan Sosial

Hukum ekonomi membentuk basis perkembangan masyarakat. Hukum ini menentukan berbagai macam hubungan sosial-ekonomi diantara orang-orang (hubungan dalam produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi). Hukum alam dan Sosial merupakan gambaran umum yang obyektif, artinya: ia asli dan berjalan terus baik kita suka maupun tidak. Artinya; orang tidak bisa merubah, mentransformasi ataupun menghentikan.

 

 

II. CORAK PRODUKSI KAPITALISME

 

Hukum Nilai ---Hukum Ekonomi mengenai Produksi Komoditi

 

Persaingan dan Anarkhisme Produksi

Jika kepemilikan pribadi yang berlaku, maka produksi komoditas-komoditas dijalankan secara spontan. Tidak ada lembaga yang ada untuk memberi indikasi bagi produser  komoditi apa yang seharusnya dihasilkan dan seberapa banyak.  Antara wiraswasta dan petani tidak mengkoordinasikan produksi mereka dengan para bisnisman yang lain atau dengan para konsumen. Yang terjadi adalah anarkhi, yakni : tanpa perencanaan, penyakit dalam produksi.

Anarkhisme Produksi ditingkatkan oleh adanya persaingan, oleh perjuangan pahit diantara para produser demi kondisi yang lebih baik bagi produksi dan penjualan, demi  laba yang paling besar. Persaingan dan Anarkhisme Produksi adalah merupkan hukum dari produksi komoditi yang berbasis pada kepemilikan pribadi.

 

Modal dan Nilai Lebih

Upah dalam Sistem Kapitalisme

Kapitalisme adalah nama dari sistem sosial dimana tanah, pabrik-pabrik, dan lain-lainnya dimiliki oleh segelintir orang pemilik tanah dan kapitalis, sementara sebagian besar orang tidak memiliki kekayaan, atau sangat sedikit  kekayaannya, sehingga dengan sendirinya  harus menjadi buruh.

 

Akumulasi Kapital Primitif

Kondisi dasar yang menyebabkan lahirnya kapitalisme :

1.      Adanya orang-orang yang memiliki kebebasan pribadi tetapi tidak punya faktor-faktor produksi atau alat lainnya, dan karenanya menjual tenaga kerja mereka. 

2.      Konsentrasi (pemusatan) faktor-faktor produksi dan sejumlah besar uang di tangan individu-individu tertentu.

Munculnya kapitalisme didorong oleh akumulasi primitif. Akumulasi primitif tidak lain adalah proses sejarah  bercerainya produsen dari faktor-faktor produksi. Akumulasi primitif ini dapat kita lihat seperti apa yang terjadi di Inggris, dimana para tuan tanah dengan paksa mengambil tanah umum milik petani bahkan sampai mengusir mereka dari rumah-rumah mereka. Lahirnya borjuasi juga berlangsung dengan pengambil-alihan kekayaan negara dan gereja. Banyak orang menjadi gelandangan, pengemis dan preman.

 

Tenaga Buruh Sebagai Komoditi

Tenaga buruh adalah meliputi kemampuan fisik dan mental yang dimiliki seseorang, yang berguna setiap ia memproduksi barang.  Nilai tenaga buruh dihitung dalam bentuk uang, berupa upah.

Sebagai komoditi, tentunya nilai tenaga kerja juga mempunyai nilai guna, yang terdiri dalam kapasitas buruh-upahan selama proses kerja untuk membuat nilai yang lebih besar dari pada nilai tenaga kerja dia. Kepemilikan atas tenaga kerjalah yang merupakan sumber dari Nilai Lebih (surplus Value).

 

Produksi Nilai Lebih ---Penghisapan Kapitalis

Gambaran spesifik dari proses kerja dalam kapitalisme :

1.      Buruh bekerja dibawah kontrol kapitalis yang mana sebagai pemilik kerja. Kapitalis menentukan apa yang harus diproduksi, berapa skalanya dan dengan cara bagaimana.

2.      Tidak hanya tenaga kerja buruh yang dikuasai oleh kapitalis, tetapi juga produk  tenaganya.

 Produksi kapitalis adalah kombinasi dari pembuatan nilai-guna dan proses pertumbuhan nilai. Sifat tenaga kerja  adalah  mendua. Di satu sisi, ia merupakan tenaga kongkrit dan ia menghasilkan nilai-guna. Di sisi lainnya, ia merupakan tenaga abstrak dan ia menghasilkan nilai komoditas. Bagi kapitalis, produksi nilai-guna hanya berarti meraih tujuan dia. Tujuan dan motif penguasaan produksi kapitalis tersebut adalah pembuatan nilai lebih.

Penghisapan Kapitalis = Pencurian Nilai Lebih. Jumlah nilai lebih langsung dimasukkan/digabungkan dengan modal  (akumulasi modal).

 

Dua Cara Peningkatan Penghisapan Terhadap Kelas Pekerja

 

1.      Dengan perpanjangan jam kerja.

2.      Dengan pemotongan jam kerja, tapi dengan peningkatan produktifitas.

 

Kontradiksi Dasar dalam Kapitalisme

Kontradiksi antara karakter sosial dalam produksi dan bentuk kepemilikan pribadi atas hasil produksi. Kontradiksi dasar ini menggambarkan kontradiksi antara Kekuatan-kekuatan produktif dengan hubungan produksi kapitalisme. Jika sosialisasi produksi terus berkembang, kapitalisme menjadi hancur. Untuk menggantinya, kepemilikan kapitalis harus dihapuskan, diganti kepemilikan sosial.

 

Krisis Ekonomi

Sebab dasar krisis ekonomi adalah over-produksi, yang ditandai dengan lesunya perdagangan, kelebihan komoditas  di pasar, macetnya pabrik-pabrik, dan banyaknya PHK.. Apakah ini berarti kelebihan barang, makanan, dan lain-lain ? TIDAK ! Over-produksi tersebut TIDAK ABSOLUT, tetapi RELATIF. Ini adalah akibat dari komoditi yang hanya dibandingkan terhadap permintaan efektif tapi tidak dibandingkan dengan permintaan aktual  masyarakat.

Permintaan efektif = jumlah yang dibeli oleh masyarakat.

Permintaan aktual  = kebutuhan masyarakat terhadap suatu komoditas.

Permintaan (kebutuhan) masyarakat  terhadap barang tidak menurun  jika terjadi krisis, tetapi terjadi penurunan secara tajam daya beli rakyat.

Over-produksi adalah kontradiksi mendasar kapitalisme --kontradiksi antara  watak sosial produksi dan bentuk kepemilikan pribadi oleh kapitalis terhadap hasil produksi.

 

Imperialisme

Imperialisme adalah bentuk tertinggi dari kapitalisme. 

Gambaran umum imperialisme:

1.      Kosentrasi produksi dan Monopoli.

Terjadi kosentrasi di induk-induk imperialis dan adanya monopoli yang diakibatkan menangnya persaingan modal besar terhadap modal kecil

2.      Modal Financial dan Oligarkhi Financial.

Uang telah menjadi komoditas dan lahirnya sekelompok kecil pemilik modal yang bisa mempunyai kekuasaan penuh. Di Amerika dan Inggris, misalnya, pengusaha besar bisa mengatur negara. Di dunia : IMF bisa mengatur kebijakan ekonomi hampir semua negara.

3.      Ekspor Modal  dan adanya teritori ekonomi yang membagi-bagi bumi.

Dalam rangka persaingan, akhirnya harus ada perebutan wilayah. Dulu bentuknya dengan penjajahan-penjajahan, sekarang bentuknya adalah blok-blok ekonomi seperti : Uni Eropa, AFTA, NAFTA, APEC, dll.

 

 

BACK